Asal Usul Etnik Rentenuukng

Kata ”Dayak” seringkali digunakan sebagai kata untuk menyebutkan tentang identitas etnik asli yang menghuni daerah – daerah yang berada di wilayah pulau kalimantan. Kata ini dapat diartikan sebagai ulu (hulu sungai), kata ini sebagai kategorisasi etnik yang ada di pedalaman sungai Mahakam. Selain itu digunakan hanyalah untuk mempermudah identifikasi etnik, atau mempermudah pemahaman. Karena hanya kata ”dayak” inilah yang paling populer dan paling mudah digunakan.

Generalisasi ini terjadi, karena masyarakat nasional tidak memiliki informasi yang cukup tentang identitas atau klasifikasi tentang etnik itu sendiri. Mungkin sekali hal serupa juga terjadi dalam upaya mengidentifikasikan kelompok – kelompok etnik lainnya dibanyak sekali tempat di Indonesia.

Pada wilayah Kalimantan Timur saja, bila ukuran identifikasinya adalah kata dayak tadi, maka akan sangat banyak sekali komunitas – komunitas etnik tadi yang termasuk kedalam klasifikasi ini. Padahal kamunitas – komunitas etnik yang merupakan bagian didalamnya adalah komunitas etnik yang spesifik, yang berbeda satu – sama lain. Karena keterbatasan tadi, maka kendati sebenarnya klasifikasi atau penyebutan tadi kurang tepat, mau tidak mau tetap dianggap benar saja.

Sementara itu di Kabupaten Kutai Barat saja, terdapat banyak sekali komunitas etnik dalam kategori dayak tadi. Diperkirakan mungkin sekali mencapai belasan bahkan puluhan kelompok etnik dalam kategori dayak tadi. Setiap kelompok etnik memiliki identitas yang berbeda dari kelompok etnik lainnya. Dengan begitu, setiap kelompok etnik harus dihormati dan diakui eksistensi atau keberadaannya.

Merujuk pada topik riset ini, Rentenukng adalah salah satu etnik yang sejak awal sampai saat ini hadir dan mewarnai sejarah kebudayaan dan pembangunan di Kabupaten Kutai Barat.

Masyarakat awam sering menganggap sama komunitas etnik ”Rentenukng” dan komunitas etnik ”Tonyooi”. Pandangan ini muncul terutama memang karena terdapat cukup banyak kesamaan identitas yang melekat kuat pada kedua etnik ini. Kesamaan itu terutama kadang hadir dalam unsur adat-istiadat dan bahasa yang digunakan.

Alkisah, saat orang Rentenukng bersama-sama membuat semacam jembatan atau titian penyeberangan di atas sungai Mahakam yang dibuat dari rotan, tiba-tiba terdengar teriakan ayau-ayau. Lalu, terjadilah salah pengertian atau pendengaran mengenai arti kata tersebut. Sementara orang, ketika itu mengartikan sebagai payau, sedangkan yang lain mengartikannya sebagai ayau. Akibat salah pengertian dan pendengaran tersebut jembatan rotan itu diputuskan. Oleh karena itu kelompok seberang utara sungai Mahakam kembali mudik sungai Mahakam dan bersatu dengan kelompok suku yang hingga sekarang dikenal sebagai orang Penehing atau Aoheng, sedangkan orang-orang yang sudah tiba di seberang selatan meneruskan perjalanan menghilir sungai Mahakam dan selanjutnya menetap di Ahatn atau Han.

Di kampung Ahatn ini, menurut informan, orang Rentenukng pernah di serang oleh bala tentara kerajaan Kesultanan Kutai..   Sebelumnya, kampung ini juga silih berganti di serang oleh suku-suku Dayak lain, namun selalu tidak berhasil terkalahkan. Nanum,  Kesultanan Kutai tetap berusaha mencari cara untuk merebut kampung Ahatn dan menguasai orang Rentenukng. Menurut cerita, kampung ini dipagari oleh bambu-bambu hidup (priikng).

Akhirnya, Kesultanan Kutai mengirim seorang mata-mata untuk tinggal di kampung Ahatn. Mata-mata itu menikah dengan sorang gadis Rentenukng di kampung tersebut. Setelah menikah, maka sang mata-mata itu terus mencari informasi dari isterinya mengenai rahasia kekuatan kampung Ahatn, yang tidak pernah terkalahkan oleh musuh dari manapun.

Setelah mengetahui rahasia pertahanan kampung ini, maka lelaki mata-mata itu pergi meninggalkan isterinya dan menyampaikan keterangan yang ia peroleh kepada Sultan Kutai.. Bahwa kekuatan pertahanan kampung Ahatn tersebut terletak pada pagar bambunya. Mendapat informasi tentang rahasia kekuatan kampung Ahatn tersebut, maka Kesultanan Kutai mempersiapakan serangan ke kampung Ahatn.

Kesultanan Kutai mengirim suku yang telah ditundukkannya terlebih dahulu, yaitu orang Tuwanaaq, sebagai bala tentara yang diperlengkapi dengan berbagai perlengkapan senjata dan ritual perang. Lantas rombongan perang  Kesultanan Kutai terlebih dahulu mempersembahkan korban pada batu seniang supaya menang dalam pertempuran melawan kampung Ahatn. Namun serangan yang pertama ini gagal.

Cara berikutnya adalah menaburkan manik-manik di sekeliling pagar bambu hidup (dan berduri) itu. Ketika gadis-gadis kampung itu turun ke sungai untuk mandi, mereka melihat manik-manik yang bertebaran itu. Mereka lalu mengumpulkannya dan memberitahukan kepada orang-orang tua di kampung tersebut. Kemudian, orang-orang kampung pun ikut memetik atau mengumpulkan manik-manik tersebut, bahkan menebang atau membersihkan bambu  pagar kampung untuk menemukan manik-manik bertaburan di sana Akibatnya, pertahanan kampung itu hilang, sehinga memudahkan balatentara Kesultanan Kutai menyerang kampung dengan mudah.

Orang-orang di kampung Ahatn kalah dan menyerah, sehingga sejak saat itu, orang Rentenukng berada di bawah kekuasaan Kesultanan Kutai atau menjadi orang yang tidak marantikaaq-mrentawaai (merdeka) lagi. Walaupun demikian, orang Rentenukng tidak pernah diperlakukan sebagai budak oleh Kesultanan Kutai.

Menurut tokoh Rentenukng, akibat kekalahan tersebut orang Rentenukng membuang sebagian harta pusaka nenek-moyang mereka ke sungai Mahakam, antara lain Sebuah Gong Besar yang  disebut Ulaq Lingakng, yang dijatuhkan di muara sungai Han (sekarang di hulu kampung Kliwai).

Dari Ahatn, orang Rentenukng pindah ke Apo Beliatn. Di sana, mereka mengadakan upacara-upacara ritual atau belian untuk membuang sial atas kekalahan mereka. Upacara belian ini dipimpin oleh Singar Irih dari Bayaaq. Selanjutnya, orang Rentenukng berpindah-pindah kampung. Barangkali ada sekitar 200 kampung (puncutn luuq) bekas pindahan orang Rentenukng sebelum menetap tinggal di kampung Linggang Melapeh yang sekarang ini yang berdiri tahun 1915 . Kini, orang Rentenukng disebut dengan nama-nama lain, seperti “Tunjung Rentenukng”, “Tunjung Linggang” atau “Tonyooi-Rentenukng”.

Istilah “Tunjung” mungkin sekali berasal kata “tuncukng” (bahasa Rentenukng), yang berarti mudik ke hulu sungai. Oleh karena itu, orang Tunjung berarti orang hulu, orang dari tanah hulu. Lalu, kata itu diucapkan (dilafalkan) menjadi “Tunjung”. Pengucapan seperti ini tampaknya berasal dari orang luar, yaitu orang Haloq atau orang Kutai. Begitu pula halnya dalam istilah “linggang”, yang berasal dari kata “ulaq lingakng” (nama gong besar yang dijatuhkan ke sungai Mahakam) yang kemudian berkembang menjadi linggang. Sedangkan istilah “rentenukng” (rantau dan nukng), berarti rantau hulu atau hulu sungai Mahakam. Orang Rentenukng menyebut Sungaai Mahakam dengan istilah “rantau”.

Adapun istilah “tonyooi” menurut saya, mungkin berasal dari kata “tonoy” yang berarti roh pemberi restu dalam upacara-upacara adat besaraaq di kalangan Rentenukng. Pada waktu melakukan upacara adat yang disebut melas kelakar dalam rangka suatu pengadilan adat, maka orang selalu terlebih dahulu memohon restu dari Tonoy Luuq dan sebagainya.

Dari gambaran di atas, tampak bahwa orang Rentenukng memang pernah bertemu dan berhubungan baik dengan orang Penehing di hulu Mahakam, tetapi tidak berasal dari sana. Orang Rentenukng adalah keturunan kelompok Sengkereaq di sungai Bengkalakng. Selain itu tokoh adat Rentenukng juga mengatakan bahwa orang Rentenukng juga bukan keturunan Tulur Aji Jangkat (leluhur orang Tunjung Tengah).

Uraian tersebut di atas, sekurang-kurangnya dapat dikatakan bahwa pada zaman dahulu, pernah terjadi hubungan baik di antara kedua kelompok suku tersebut (Rentenukng dan Penehing), atau bahwa orang Rentenukng pernah bermigrasi dari daerah sungai Bengkalakng ke daerah orang Penehing di ulu Mahakam.

Sumber : CERD Kubar – 2009.

 


Advertisements
Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Posted in Uncategorized | 1 Comment